BUKAN HANYA CUMLAUDE, KARAKTER DIUJI DI LORONG KAMPUS

Menjadi mahasiswa hari ini tidak cukup hanya dengan IPK 3,9 dan skripsi yang lolos Turnitin di bawah 20%. Di tengah kasus joki tugas yang makin canggih, titip absen via grup WhatsApp, hingga penyalahgunaan dana BEM yang kadang dianggap biasa, kampus justru menjadi laboratorium pertama untuk menguji karakter.

Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor mengusung konsep pengembangan karakter mahasiswa JAWARA (Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius, Akuntabel) untuk menghasilkan Sumberdaya Manusia Pertanian yang Profesional, Mandiri dan Berdaya Saing. Lalu, seperti apa wujud mahasiswa yang jujur, adil, berwibawa, amanah, religius, dan akuntabel itu dalam keseharian? Bukan di dalam buku teks, tapi di lorong kelas, di lab, dan di grup angkatan.

Kisahnya dimulai dari hal paling kecil: kejujuran akademik.

Seorang mahasiswa yang jujur bukanlah ia yang tidak pernah tergoda untuk menyontek. Godaan itu ada. Ketika deadline tugas menumpuk dan akses ChatGPT hanya sejauh satu klik, ia memilih untuk tetap menulis dengan bahasanya sendiri, mencantumkan sumber, dan berani menulis di lembar jawaban "saya belum paham bagian ini, Prof". Saat penelitian skripsi, ia tidak mengarang 30 responden fiktif demi grafik yang cantik. Ia turun ke lapangan, menolak data palsu, karena ia tahu satu data bohong bisa merusak satu kebijakan.

Dari kejujuran, lahirlah keadilan. Di kelas, kita mengenalnya sebagai ketua kelompok yang tidak pilih kasih. Ketika kerja kelompok, ia tidak membebankan semua tugas kepada satu teman yang paling pintar sementara yang lain hanya menempel nama. Ia membagi peran secara proporsional dan menilai kontribusi secara objektif. Saat menjadi panitia Pemira atau lomba karya ilmiah, ia tidak memenangkan teman satu organisasi. Ia menggunakan rubrik yang sama untuk semua. Adil bukan berarti sama rata, tapi memberi hak sesuai porsinya.

Mahasiswa seperti ini biasanya memiliki wibawa dengan sendirinya. Wibawanya bukan karena ia keras dan ditakuti. Wibawanya tumbuh karena konsistensi. Ia datang tepat waktu saat presentasi, berpakaian rapi saat sidang, dan berbicara santun bahkan kepada petugas kebersihan dan satpam kampus. Ia tidak asyik bermain ponsel saat dosen menjelaskan, karena ia tahu jika ia melarang adik tingkatnya melakukan hal itu, ia harus memberi contoh terlebih dahulu. Ia menguasai materi sebelum berbicara di depan, sehingga ia tidak perlu membentak untuk didengarkan.

Dan ketika sebuah amanah dititipkan, ia menjaganya seperti titipan. Ketika dipercaya menjadi bendahara angkatan, catatannya bukan diingat-ingat, tapi tertulis rapi di spreadsheet dengan bukti transfer. Ketika menjadi Penanggung Jawab mata kuliah, ia memastikan informasi dari dosen sampai ke 40 orang di kelas, bukan berhenti di 5 orang teman dekatnya. Laboratorium ia tinggalkan dalam keadaan bersih, buku perpustakaan ia kembalikan sebelum denda berjalan. Baginya, amanah adalah soal kepercayaan, dan kepercayaan itu mahal.

Semua itu ia jaga dengan jangkar religiusitas. Religius di sini bukan soal simbol, melainkan soal rem moral. Di sela jadwal kuliah yang padat, ia masih mencari mushola. Ia menolak ajakan untuk memanipulasi absensi bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan kalimat sederhana: "maaf, ini tidak benar menurut saya". Ia juga toleran. Ia tidak mengganggu teman yang berbeda keyakinan saat beribadah, bahkan ikut menjaga ketertiban saat perayaan hari besar agama lain di kampus. Empatinya nyata: saat ada teman yang sakit atau terkena musibah, ia yang pertama menggerakkan donasi dan menjenguk.

Pada akhirnya, semua karakter itu bermuara pada satu kata: akuntabel. Mahasiswa yang akuntabel tidak hilang setelah jadi ketua pelaksana. Ia membuat Laporan Pertanggungjawaban. Ada laporan keuangan, ada dokumentasi, ada evaluasi jujur tentang apa yang gagal. Ketika nilainya jatuh, ia tidak buru-buru menulis status di media sosial menyalahkan dosen killer. Ia datang ke ruang bimbingan, bertanya apa yang salah, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.

Pada dasarnya, kampus tidak sedang mencetak sarjana yang paling pintar. Kampus sedang mencetak manusia yang bisa dipercaya.

Karena ijazah mungkin bisa dicetak ulang, tapi kepercayaan yang hilang di ruang kelas, akan sulit tumbuh kembali di ruang kerja.

Rudy_Bogor

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama